" Wadah Zakat yang Tergilas Zaman"

Selasa, 07 September 2010
Chobbu', Wadah Zakat yang Tergilas Zaman Menganyam -- MI/ MOHAMMAD GHAZI
Apakah ini akan terus terjadi pada negeri ini ?
TANGAN Muslimah, 64, dengan cekatan menganyam lembar-lembar rendang (daun siwalan) kering sambil duduk di atas balai kayu di rumahnya yang sangat sederhana, di Desa Kertagenah Tengah, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Senin (6/9).

Lembaran rendang itu baru saja dia ambil dari jemuran di halaman rumahnya dan dipilah-pilah sesuai dengan panjang pendek setiap lembar. Lembar yang pendek akan dianyam dan dibuat chobbu�(wadah beras zakat fitrah atau makanan), sedangkan yang panjang dibuat tikar kara (tikar khusus untuk bungkus rajangan tembakau).

Chobbu' yang sudah jadi ditum puk dan disusun setiap seratus buah dan diikat dengan tali yang terbuat dari irisan rendang untuk dijual ke tengkulak. Selanjutnya kerajinan itu akan dijual ke Kabupaten Situbondo dan Probolinggo, Jawa Timur. Kepada tengkulak, chobbu'dijual dengan harga Rp50 ribu per ikat isi seratus buah, atau Rp500 per buah.

Bagi Muslimah, membuatchobbu' bukan lagi menjadi sumber penghasilan utama seperti pada puluhan tahun yang lalu. Kegiatan itu kini hanya sekadar mengisi waktu kosong, di sela-sela merawat tanaman kacang di ladangnya.

"Saat ini tidak mungkin kami menggantungkan hidup dari hasil membuat chobbu'. Karena hasilnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup yang meningkat," kata Muslimah.

Hal itu berlaku bukan hanya bagi nenek dua cucu itu, melainkan bagi para perajinchobbu' lainnya. Pada era 70-an, ketika benda itu masih dibutuhkan orang untuk bungkus makanan pada setiap acara hajatan atau untuk wadah beras zakat fitrah, menjadi perajinchobbu' masih bisa diandalkan sebagai sumber penghasilan utama.

Pada bulan-bulan tertentu dalam tahun Hijriah, seperti Maulid, Sya'ban, Dzulhijjah, dan Ramadan, para perajin sampai kewalahan melayani permintaan. Karena bulan-bulan tersebut dinilai bulan baik untuk melaksanakan acara seperti pernikahan dan lainnya.

Bahkan untuk memenuhi permintaan, para perajin harus mendatangkan bahan dari luar daerah seperti Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, dan daerah lain yang merupakan sentra buah siwalan.

Saat itu, di Desa Kertagenah Tengah, terdapat ratusan perajin chobbu' sampai desa itu menjadi sentra kerajinan barang yang terbuat dari daun siwalan itu. Bahkan di desadesa sekitarnya, seperti Jati, Sokalela, Kertagenah Laok, dan Bungbaruh, juga sangat mudah didapati perajin chobbu'.

"Untuk mencari tenaga muda yang mau dilatih membuat kerajinan ini, waktu itu juga sangat mudah. Pemasarannya juga lancar," kata Rasidah, perajin chobbu' lainnya di Desa Kertagenah Tengah.

Saat ini, jelas Rasidah, kondisinya sudah berubah. Para perajin chobbu' tidak lagi bisa merasakan kebanggaan dari hasil produksi mereka. Harga jual barang itu tidak seberapa, hanya Rp50 ribu per seratus buah. Padahal untuk membuat sebanyak itu, seorang perajin membutuhkan waktu tiga hari. Belum biaya pembelian rendang yang harganya Rp5.000 per seratus lembar.

Chobbu', kata dia, saat ini hanya digunakan sebagai wadah beras untuk zakat fitrah. Itu pun hanya di beberapa tempat, seperti di sebagian pelosok di Kabupaten Situbondo dan Probolinggo.

Akhirnya, hanya pada bulanbulan tertentu saja, para perajin yang masih tersisa memproduksichobbu'. Selebihnya mereka memproduksi tikar kara sebagai persiapan untuk musim panen tembakau.

Ahmad Fauzi, seorang pemerhati sosial di Pamekasan, memperkirakan tidak sampai 15 tahun ke depan, chobbu' akan sulit ditemui lagi di Madura. Sebab saat ini perajin barang tersebut hanya tinggal sisa-sisa. (Mohammad Ghazi/S-2) 
Sumber Media Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar