Selamatkan Bumi Kita
05 September 2010
Pemanasan global dan perubahan iklim menggambarkan kondisi bumi yang semakin buruk.
Amalia Susanti
HARI Bumi yang jatuh pada 22 April 2010 diperingati secara internasional untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet tempat kita tinggal. Tahun ini merupakan tahun ke-40 Hari Bumi diperingati sejak dicanangkan pertama kali oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson, seorang pengajar lingkungan hidup pada 1970.
Bila bumi diibaratkan sebagai manusia, dia pasti sedang sekarat. Sudah banyak kerusakan dan bencana yang penyebab utamanya adalah ulah manusia. Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Beny Nahdian Furqan menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian dari Intercontinental Climate Change (ICC), saat ini akumulasi konsentrasi gas rumah kaca sudah melalui ambang batas, yakni lebih dari 380 par per trillion (ppm). Padahal, standarnya pada angka 330-350 ppm.
Diprediksikan pada 2030-2040 akan terjadi peningkatan gas rumah kaca menjadi 490 ppm. Peningkatan itu mengakibatkan kenaikan suhu permukaan bumi, melelehnya es di kutub utara, tingginya permukaan air laut, serta perubahan iklim menjadi ekstrem. Kenaikan suhu bumi juga akan mengakibatkan penyebaran penyakit, mengancam ketersediaan pangan dunia, dan keterbatasannelayan menangkap ikan.
"Pemanasan global dan perubahan iklim menggambarkan kondisi bumi yang semakin buruk sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan tatanan biosfer karena pengelolaan lingkungan yang tidak ramah," ujar Berry. Di sisi lain, upaya untuk pemulihan bumi masih sangat kecil bila dibandingkan aktivitas manusia dan daya merusak serta eksploitasi bumi.
Hal senada diungkapkan pengamat lingkungan hidup Erna Witoelar. Menurut Erna, saat ini kondisi bumi semakin buruk karena peningkatan penduduk yang belum terkendali. Buruknya kondisi bumi juga ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi dengan menjaga lingkungan. Penggunaan energi berlipat, serta ketimpangan antara kaya dan miskin semakin besar yang membuat masyarakat miskin terpaksa merusak atau mengotori lingkungan.
Semakin peduli Untungnya, lanjut Erna, saat ini masyarakatnya semakin peduli terhadap lingkungan. Kesadaran itu, mulai tumbuh pada 2007. Dan generasi muda pun mulai memiliki cara kreatif untuk memperbaiki kondisi lingkungan.
"Hal kecil yang dilakukan perorangan tidak dapat dianggap remeh, tapi akan lebih berarti bila dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia. Langkah itujuga harus diikuti industri dan pemerintah," jelas Erna.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan industri dan perorangan adalah menghentikan pembuangan limbah dengan cara mendaur ulang limbah tersebut. Dalam kehidupan sehari, kita dapat memilih minuman kemasanyang berlabel karbon. Dengan cara ini dapat mengurangi dampak emisi karbon terhadap lingkungan (lihat grafis).
Pada bagian lain, Walhi juga mengharapkan adanya komitmen kuat generasi muda untuk memulihkan dan mengampanyekan, Pulihkan Indonesia untuk Keselamatan Rakyat dan Dunia. Salah satu cara adalah dengan menghentikan berbagai aktivitas yang dapat menimbulkan kerusakan. Selain itu, arah kebijakan pemerintah harus berpihak kepada lingkungan.
Sementara itu, terkait dengan pengembangan green economy atauekonomi hijau di berbagai negara, Berry menegaskan ekonomi hijau saat ini belum terjadi di Indonesia dan masih menjadi slogan. Hal itu karena konsepsi ekonomi politik belum berubah, yakni masih menganut ekonomi politik eksploitasi.
"Oleh karena itu, Walhi mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera mengumumkan situasi darurat ekologis Indonesia yang kritis saat ini, serta mendorong semua pihak memulihkan kondisi itu," tandasnya. Caranya, dengan mengintegrasikan pembangunan nasional dan tidak lagi secara parsial. Semangat ekonomi hijau dapat tercapai bila rakyat memaksa pemerintah mengubah haluan konsepsi kebijakan pembangunan. Kebijakan itu di antaranya usaha menanam pohon, memulihkan kondisi sungai dan lingkungan, serta mendorong upaya nasional dan global agar setiap orang di dunia mengubah tatanan ekonomi politik yang eksploitatif serta mempunyai konsepsi ekonomi politik ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pada bagian lain, penggunaan energi ramah lingkungan juga belum menjadi tujuan utama karena kita masih mengandalkan energi fosil yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Itu sangat disayangkan karena Indonesia kaya akan energi alternatif dan terbarukan, seperti tenaga air, matahari, dan biotermal.
Meski begitu, terdapat hal-hal yang sudah dilakukan Indonesia dalam usaha memperbaiki lingkungan. Di antaranya mengurangi pembalakan liar dan kebakaran hutan. (S-3)amalias@mediaindonesia.com
Amalia Susanti
HARI Bumi yang jatuh pada 22 April 2010 diperingati secara internasional untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet tempat kita tinggal. Tahun ini merupakan tahun ke-40 Hari Bumi diperingati sejak dicanangkan pertama kali oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson, seorang pengajar lingkungan hidup pada 1970.
Bila bumi diibaratkan sebagai manusia, dia pasti sedang sekarat. Sudah banyak kerusakan dan bencana yang penyebab utamanya adalah ulah manusia. Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Beny Nahdian Furqan menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian dari Intercontinental Climate Change (ICC), saat ini akumulasi konsentrasi gas rumah kaca sudah melalui ambang batas, yakni lebih dari 380 par per trillion (ppm). Padahal, standarnya pada angka 330-350 ppm.
Diprediksikan pada 2030-2040 akan terjadi peningkatan gas rumah kaca menjadi 490 ppm. Peningkatan itu mengakibatkan kenaikan suhu permukaan bumi, melelehnya es di kutub utara, tingginya permukaan air laut, serta perubahan iklim menjadi ekstrem. Kenaikan suhu bumi juga akan mengakibatkan penyebaran penyakit, mengancam ketersediaan pangan dunia, dan keterbatasannelayan menangkap ikan.
"Pemanasan global dan perubahan iklim menggambarkan kondisi bumi yang semakin buruk sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan tatanan biosfer karena pengelolaan lingkungan yang tidak ramah," ujar Berry. Di sisi lain, upaya untuk pemulihan bumi masih sangat kecil bila dibandingkan aktivitas manusia dan daya merusak serta eksploitasi bumi.
Hal senada diungkapkan pengamat lingkungan hidup Erna Witoelar. Menurut Erna, saat ini kondisi bumi semakin buruk karena peningkatan penduduk yang belum terkendali. Buruknya kondisi bumi juga ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi dengan menjaga lingkungan. Penggunaan energi berlipat, serta ketimpangan antara kaya dan miskin semakin besar yang membuat masyarakat miskin terpaksa merusak atau mengotori lingkungan.
Semakin peduli Untungnya, lanjut Erna, saat ini masyarakatnya semakin peduli terhadap lingkungan. Kesadaran itu, mulai tumbuh pada 2007. Dan generasi muda pun mulai memiliki cara kreatif untuk memperbaiki kondisi lingkungan.
"Hal kecil yang dilakukan perorangan tidak dapat dianggap remeh, tapi akan lebih berarti bila dilakukan oleh banyak orang di seluruh dunia. Langkah itujuga harus diikuti industri dan pemerintah," jelas Erna.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan industri dan perorangan adalah menghentikan pembuangan limbah dengan cara mendaur ulang limbah tersebut. Dalam kehidupan sehari, kita dapat memilih minuman kemasanyang berlabel karbon. Dengan cara ini dapat mengurangi dampak emisi karbon terhadap lingkungan (lihat grafis).
Pada bagian lain, Walhi juga mengharapkan adanya komitmen kuat generasi muda untuk memulihkan dan mengampanyekan, Pulihkan Indonesia untuk Keselamatan Rakyat dan Dunia. Salah satu cara adalah dengan menghentikan berbagai aktivitas yang dapat menimbulkan kerusakan. Selain itu, arah kebijakan pemerintah harus berpihak kepada lingkungan.
Sementara itu, terkait dengan pengembangan green economy atauekonomi hijau di berbagai negara, Berry menegaskan ekonomi hijau saat ini belum terjadi di Indonesia dan masih menjadi slogan. Hal itu karena konsepsi ekonomi politik belum berubah, yakni masih menganut ekonomi politik eksploitasi.
"Oleh karena itu, Walhi mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera mengumumkan situasi darurat ekologis Indonesia yang kritis saat ini, serta mendorong semua pihak memulihkan kondisi itu," tandasnya. Caranya, dengan mengintegrasikan pembangunan nasional dan tidak lagi secara parsial. Semangat ekonomi hijau dapat tercapai bila rakyat memaksa pemerintah mengubah haluan konsepsi kebijakan pembangunan. Kebijakan itu di antaranya usaha menanam pohon, memulihkan kondisi sungai dan lingkungan, serta mendorong upaya nasional dan global agar setiap orang di dunia mengubah tatanan ekonomi politik yang eksploitatif serta mempunyai konsepsi ekonomi politik ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pada bagian lain, penggunaan energi ramah lingkungan juga belum menjadi tujuan utama karena kita masih mengandalkan energi fosil yang menjadi penyebab utama pemanasan global. Itu sangat disayangkan karena Indonesia kaya akan energi alternatif dan terbarukan, seperti tenaga air, matahari, dan biotermal.
Meski begitu, terdapat hal-hal yang sudah dilakukan Indonesia dalam usaha memperbaiki lingkungan. Di antaranya mengurangi pembalakan liar dan kebakaran hutan. (S-3)amalias@mediaindonesia.com
siap bos
BalasHapusgerakan menanam seribu pohon
BalasHapussusah bener ya diajak baek
BalasHapusbagus juga blog nih
BalasHapus:)
kapan bumi ini seperti yang dulu ????
BalasHapusharus mulai dihentikan tuh kendaraan yg udah bobrok
BalasHapusmari menanam pohon !!!
BalasHapusBersihkan lingkungan kita
BalasHapuskapan lagi kita bisa menghirup udara segar ???
BalasHapusyyk mari......!!!
BalasHapus